Berziarahlah aku, menyusuri
puncak nagari berselimut kabut pagi,
di bawah kilat jarummu yang menghunus hari.
Kudengar kembali dendang-dendang terbenam
yang berenang di gerai rambut Sungai Batang,
menyelip di sela lembap bebatuan Binuang,
dari sejak Belanda menancapkan rusuk jam
ke jantung Bukittinggi yang aram.
Adakah kau ingat desau di kaki menaramu
dari masa teramat lampau,
kala para tukang kaba bersila,
bersanding secawan kopi talua,
mengisahkan Tuanku Nan Renceh
menyongsong panji memerangi mereka
yang datang dari seberang,
sementara para perempuan menjahit bendera
dari kain panjang dibelah malam.
Masih ingatkah kau saat tubuhmu beku,
menjelma mata yang merekam kesaksian
dan gerimis hujan,
ketika talempong dipukul sebagai kode rahasia,
lalu perundingan di ruang bawah tanahmu
berakhir dengan mata air darah di lereng Ngarai Sianok.
Kau merasa tubuhmu dirajam berkali-kali setelahnya,
sebab darah itu seperti tak jauh beda
dengan yang menggumpal di dadamu.
Maka, ziarah macam apa yang dapat
menyeka giris dan getun sepanjang menaramu?
Sementara gemetar dentang jam
kini serupa tangisan tersamarkan,
sebab tercampur riuh klakson dan teriakan turis,
dan kau masih lebih akrab dengan sepi:
sepi yang ramai, sepi yang berseragam.
Simpanlah segurat senyum,
walau sekarang anak-anak tumbuh dengan mata bercermin layar gawai,
dan mereka sibuk mencari sinyal yang tak pernah setia,
padahal ada pelukmu yang tak pernah ingkar,
mengurai duka dan semua yang memasung cinta.
Tegaklah kau seperti batang nyiur
walau masa-masa kian lamur.
Ukurlah hari-hari yang tak lagi punya nama,
sebab masih sayup kudengar kalam
niniak mamak membisikkan mantera,
mengirim doa menyusuri retak punuk-punuk bukit,
agar waktu tak hanya berjalan, tetapi juga pulang,
mengobati tubuhmu yang hampir belulang.
Lalu, ajarkanlah aku cara diam yang bermakna,
seperti dulu kau diam saat peluru bersarang di daging pejuang.
Biarkan aku, seperti bebatu di kaki Bukit Batabuah,
hanya mendengar, tanpa perlu menjawab.
Karena kadang, sejarah paling dalam
justru tersimpan pada yang tak terucap.





