Aku tidak lagi menulis—
aku memasuki arka
yang berlayar di antara aksara, bilangan, dan air
yang belum sempat disebut kehidupan.
Di sana waktu belum lahir,
namun kita telah menguburnya
dalam beton, angka, dan janji
yang tak pernah menemukan sungai.
Air pernah menari—
membelah desa, kota, dan luka;
kini dipenjara dalam peta,
diukur sebagai laba,
dan dilupakan sebagai napas.
Pipa berkarat—urat bumi yang putus.
Anak-anak menadah langit di ember retak,
belajar haus
sebelum mengenal hujan.
Aku membaca bilangan—
menemukan kekeringan yang disembunyikan.
Aku menyentuh aksara—
merasakan sunyi kehilangan tubuhnya.
Bendungan berdiri:
mengunci aliran, menahan doa,
menjadikan air sekadar angka.
Namun di dalam arka ini
masih ada denyut purba—
sesuatu yang belum sempat kita rusak.
Aku menenun jala rasa,
menangkap yang tak lagi jatuh,
merajut sisa air menjadi cahaya
agar dunia tidak lupa
cara bernapas sebagai manusia.
Sebab yang runtuh bukan hanya sungai—
melainkan kita,
yang perlahan mengering dari dalam
dan kehilangan arah pulang ke sumber diri.
Dan ketika aku membaca semesta,
aku tahu:
yang paling mustahil kita bendung
bukan air yang pergi,
melainkan manusia
yang kehilangan dirinya sendiri
dari sumber yang dulu mengalir di dalam dirinya.





