Di ujung senja yang hampir lupa cara bernapas,
aku menyimpan suaramu
dalam botol kaca.
Retaknya bukan oleh waktu,
melainkan oleh terlalu sering kupanggil namamu dari dalam.
Kau pernah berkata, dunia ini hanya selembar kulit tipis,
mudah robek oleh ingatan,
dan kita adalah tinta yang bersikeras tinggal
meski kertasnya perlahan dilupakan.
Aku menertawakanmu saat itu,
seolah abadi adalah sesuatu yang bisa kita pelajari bersama.
Kita berlari di hutan yang menyala pelan.
Daun-daunnya menulis ulang jejak kaki kita,
dan langit menjatuhkan cahaya
seperti doa yang tak sempat selesai diucapkan.
Lalu sesuatu mulai memakan terang,
bukan gelap,
melainkan lupa.
Namamu menguap dari udara,
seperti huruf-huruf yang menolak disusun kembali.
Aku memanggilmu berkali-kali,
hingga suaraku berubah menjadi ruang kosong
yang hanya tahu caranya kembali tanpa membawa siapa-siapa.
Katamu dulu,
jika salah satu dari kita harus hilang,
yang lain harus tetap menulis,
bukan untuk dikenang,
tapi agar kehilangan punya bentuk.
Maka kini aku menulis dengan tangan yang tak lagi utuh,
mengumpulkan tawamu dari sudut-sudut yang tak ingin ditemukan.
Kuciptakan kau sebagai burung dari sisa cahaya,
yang hinggap di bahuku
setiap kali aku hampir percaya bahwa semuanya benar-benar selesai.
Namun kau tak pernah lagi bersuara.
Kau hanya ada,
seperti sesuatu yang terlalu dekat untuk disentuh,
dan terlalu jauh untuk kembali.
Aku ingin marah pada waktu,
tapi ia ternyata tinggal di dalam nadiku sendiri,
menghitung mundur segala yang pernah kita sebut selamanya.
Yang tersisa darimu bukan kehilangan,
melainkan cara baru untuk patah tanpa suara.
Jika suatu hari puisiku sampai pada dunia,
aku ingin mereka tahu,
bahwa di setiap kata yang hampir runtuh,
ada dua orang yang masih saling menggenggam,
meski salah satunya sudah menjadi bahasa.
Dan jika aku berhenti di larik terakhir,
biarlah itu bukan akhir,
melainkan celah kecil
tempat kau akhirnya menjawab panggilanku,
meski hanya sekali,
meski hanya sebagai gema yang memilih untuk tinggal.





