Di lipatan waktu yang pernah retak,
tersisa serpih kisah yang tak sempat ditutup.
Ia menggantung di langit sendu,
menjadi bayang lanjutan bagi langkah ayah dan ibu.
Siapa menyangka,
luka-luka lama itu
menyemai dirinya dalam diam,
menanti kelahiranku sebagai ladang baru
bagi perih yang belum usai.
Ia datang tanpa suara,
menyusup seperti kabut tipis
ke celah ingatanku,
lalu berakar di sunyi paling dalam
yang tak pernah benar-benar sepi.
Wahai luka,
engkau penulis tanpa tinta,
menggoreskan kisah pada lembar yang tak pernah kupilih.
Di tiap katamu,
ada tangis yang belajar diam,
ada perih yang menetap dalam diam,
ada rasa yang dikurung
di ruang yang lupa cara bersuara.
Aku pernah menjadi diam yang dipaksa mengerti pada keadaan.
Aku menjadi marah yang tak pernah menemukan jawaban.
Sebab waktu itu,
aku hanyalah tubuh kecil yang belum paham
mengapa takdir terasa begitu pahit.
Kini, aku menatapmu tanpa gentar,
mengenalmu bukan lagi derita,
melainkan jalan pulang menuju pengertian.
Aku belajar memelukmu bukan untuk tinggal,
melainkan untuk melepaskan.
Luka…
pelanlah mereda.
Cukup sudah kau singgah.
Kini biarlah bahagia
menenun ulang aksara yang patah,
menghangatkan ruang yang lama membeku,
agar hati ini berani terbuka, jujur pada rasa,
dan akhirnya bisa menulis kisah yang tak lagi dingin.





