Di antara larik yang tersisa,
jejak itu menetap—
lebih lama dari yang seharusnya dilupakan,
seolah lupa bukan lagi pilihan.
Anda menekan stempel merah pada kertas kusam.
Anda tampak menebalkannya dengan tekanan.
Sebuah raga tercekat, suaranya diseka,
meminta—
agar luka itu ditekan lebih lama.
Memaksa luka pandai menahan,
agar menyerupai kesetiaan,
agar derita layak dipertahankan.
Bukankah itu yang selalu Anda sodorkan?
Saya pernah meminta itu dihentikan.
Namun, bagi Anda, saya tak lebih dari hirauan.
Saya bicara—
dan Anda tertawa.
Ya, anggap saja candaan…
Anda selalu sempat untuk mengabaikan.
Saya hanya sempat untuk bertahan.
Amarah ini—gema dari harap yang Anda kubur.
Semua restu sudah Anda teguk habis.
Bukankah dadamu yang paling gemuruh merasakannya?
Pura-pura amnesia pada tumpukan budi.
Ironis, napas Anda bersandar pada belas kasih yang diulur.
Terima kasih atas pemberian Anda—
bagi saya,
dalam bentuk yang paling tulus:
sebuah kesadaran
bahwa tidak semua yang diberi
pernah benar-benar dimiliki.
Waktu telah mengetuk
palu penghakiman—
pelan,
namun tak pernah luput dari sasaran.
Dan kini,
yang tersisa hanyalah kebencian
yang tidak lagi meminta penjelasan,
tidak pula menunggu pengakuan.
Dan saya hanya ingin tahu—
apakah Anda benar-benar bahagia,
atau hanya terbiasa
hidup tanpa merasa?





