Aku terlalu jelata untuk bisa memerdekakan tanahmu,
dan aku tak cukup jelita untuk bisa memerdekakan kehampaanmu.
Jika engkau mencari wanita berjiwa perwira, berhati baja, dan bernalar bak Hypatia,
itu juga bukan aku.
Namun, menjadi sosok itu jauh lebih mudah
daripada membebaskan negerimu dari belenggu penjajah.
Beri aku waktu,
mungkin di antara satu purnama hingga sepuluh hari setelahnya.
Lalu, di antara senyuman abadi itu, engkau berkata,
“Jangan, kamu tak akan mampu menanggung perihnya!”
Seluas apa kesedihanmu sehingga engkau mati-matian menguburnya dengan senyuman?
“Seluas apa yang terbentang dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania,” jawabmu.
Kedua daun telingaku menangkap jeda dan duka di antara getar suaramu.
Namun, kedua daun telingamu hanya merekam bunyi ledakan dan raungan dari masa ke masa.
Mulai hari ini, akan kunyanyikan nada-nada indah agar engkau lupa bagaimana bunyinya penderitaan.
Namun, perang telah lebih dulu melemahkan salah satu gendang telingamu.
Sampaikan padaku perihal kata-kata yang tercekat di tenggorokanmu,
mungkin satu di antaranya bisa kupahami.
Untaian kata itu pun mengalir bagaikan hujan di bulan Januari.
Kita adalah dua insan dari dunia berbeda,
yang terbata-bata dalam bahasa ibu,
namun fasih bertutur dalam bahasa kalbu.
Jadi, mengapa engkau menutup kedua matamu?
Apakah melihat keindahan dunia yang terbentang jauh dari balik tembok-tembok itu
membuatmu merasa berdosa?
“Aku hanya merasa tidak adil pada orang-orangku.”
Di tanahmu, salju terjadi beberapa dekade sekali.
Di tanahku, salju tak sudi bertandang.
Namun, apa pun yang keluar dari lisanmu sudah cukup untuk membuat sekitarku membeku.
Dunia hanya mengajarkanku tentang bagaimana caranya berjalan selayaknya seorang wanita,
tetapi tidak pernah mendidikku tentang bagaimana caranya berjalan beriringan
dengan seorang penyintas bentrokan senjata.
Jika air mataku bisa memerdekakan tanahmu, maka akan kutangisi hingga buta mataku.
“Jika air matamu bisa memerdekakan tanahku, lebih baik kupilih belenggu.”





