Detik berdetak, memukul angka-angka tak berdosa. Nisan sembap, bertalu tangis sisa takbir semalam. Lelaki malang itu bersimpuh; dalam dekap tanah, ia melipat angkuh.
Pada ujung jari kaki ibu, sendu itu akhirnya berlabuh. Amin dalam tangisnya menjelma peluk yang teduh. Getar telapaknya getir, meraba isi kepala lelaki yang gentar.
Aku mawar yang menjelma harap, diam paling lantang, gemuruh paling sunyi.
Aku daun kering yang dikirim sepoi, menyaksi riuh dalam hening. Aku telah lama kalah, tepat di tiap pagi kemenangan; sebelum dunia pandai mengeja kehilangan.
Aku adalah tanah yang memeluk tubuh ayah. Di sela bunga-bunga yang dipaksa bisu, rindu ibu menyelinap—menganak sungai, menderas hujan.
Doanya tak terbendung, mengancam langit, menyisa kata-kata yang tak sempat ditulis oleh waktu.
Aku mendung, melepas genggam hujan, mengeja namamu di antara rintik, sebagai mantra tuk ketenanganmu, di rumahmu yang baru.
Ayah,
sanggupkah kau angkat lenganmu itu?
Suapkan segenggam kasih bila ia masih
kepadaku, anakmu yang terlewat waktu.
Kau, dingin.
Maka biarlah sepi ini menjadi altar, tempat aku merawat ingatan tanpa perlu merasa gentar. Meski kasihmu tak lagi sampai, napasmu lebih dahulu menetap dalam tiap eja harap.
Tidurlah dalam rimbun cahaya, di antara akar-akar yang tak lagi mengenal luka. Sebab di sini, namamu tak lagi sekadar nisan yang mati, melainkan kompas. Kau tuntun langkahku pulang...
Menuju rindu...
–25042026–





