Sepuluh jari di dua empat tahun,
seribu harapan bertaut.
Seuntai narasi bertajuk,
janjikah langit tak berkabut?
Perjalanan terjal, usai sudah.
Isak terpenjara di dada, pecah.
Jari itu perlahan pergi, hancur tak bersisa.
Akankah masih ada asa?
Semburat darah memerah,
tak terbendung, tak tertambal.
Hilang tak berjejak,
mati meninggalkan sajak.
Aku menganggapnya lubang kematian,
buram, tak terlihat, namun mematikan.
Nyawakukah yang diminta?
Atau dia sedang bergurau di pagi buta?
Tak ada lelucon yang semengerikan itu.
Tak ada hari buruk yang setajam itu.
Menggores perih, berantakan raga dan jiwa,
mengapungkan apa yang disebut trauma.
Melangkah ke tanah kematian.
Liang kecil itu…
menelan sebagian dari diriku,
jari-jemari kebanggaanku.
Mimpi yang suram, muka yang muram.
Ke manakah akan kucari penggantimu?
Atau, inikah cara Tuhan memiutangiku?
Aku akan pulang, perlahan dari sebagian.
Dua yang hilang…
Dua dengan sejuta kenangan.
Dua yang tak akan kembali.
Dua yang telah menjadi saksi.
Aku melayangkan mata ke gunung-gunung.
Dari manakah datang pertolongan itu?
Pertolonganku ialah dari Dia, Pencipta langit dan bumi,
Batu Karang yang tak tertandingi.
Menggenggam delapan,
menggenggam harapan.
Delapan saksi bertahan dalam pertanyaan,
mendampingi sisa-sisa tahun kehidupan.





