Seperti musafir yang membaca peta takdir,
sementara ia yang mengajak, merujuk, dan membujuk dunia tahu
kepada senyummu—adalah lebih dulu menghambur pada penabur nyawa.
Hingga detik ini pun, sesuatu yang lebih runyam dari polemik
adalah ketiadaan.
Legenda pada peta yang kau pegang
berisi muasal bagaimana bahu kuat tanpa berseloroh,
lengan menopang ocehan kecilmu yang tak sempat dilupakan dari yang sepaham.
Warna-warna jalan memberi kiasan,
menyebarkan rambu-rambu kehidupan yang tidak selalu molek.
Sisi kemelekatan menjadi garda, meski
detak kerap dipusingkan akan mengikuti jalur
atau lajur yang mana setelahnya?
Di peta, aliran sungai yang tercetak rapi, tetapi ingatan tercekat saat di pemberhentian akhir.
Nyeri menyergap, tetapi pinta telah tutup pengabulan.
"Tuhan lebih sayang kepada hamba pilihan-Nya!"
Rumus-rumus menghitung angka pada garis lintang dan bujur.
Kau tahu bahwa kemujuran hidup adalah kunci dari sepuluh jari tangan Ibu
yang meminta tanpa mengibakan diri sendiri ketika ibadah tiba,
mengiris tangis walau kadang nasib tragis dianggap sebagai sirkus di pasar malam.
Kedua bola matamu mulai merapat tenang,
membolak-balikkan peta sebagai alur hidup yang baru.
Tapi bagaimana jika tujuan dari segala kegundahan
adalah pelukan Ibu?
Kini berubah menjadi abstrak.
Di pusara waktu, orang-orang membagi ingatan kepada sepetak kepergian.
Kemboja luruh satu-satu.
Hatimu tanggal, tinggal di sebalik langkah piatu.
Probolinggo, 27 April 2026





