Cahaya redup di tengah jejak yang mulai layu.
Segumpal kabut menggantung di pintu-pintu,
lalu merebah, perlahan merayap menggurat peta,
mengajakku pergi ke suatu ruang hampa
yang dipenuhi rupa dari air mata.
Beberapa senyum tipis yang tampak suci merendah,
namun aksara merenggut suka dari tenangnya,
seolah berserah pada hati yang terlanjur patah
di ujung harap tentang indahnya luka dari cinta
yang hanya menggelar tawa, merayakan manisnya dunia.
Semakin aku mendalami tiap lekuk rasa,
nalarku terlelap, seakan hati turut merapuh.
Larut dalam tatapan kosong yang merayu keluh,
seakan menunggu janji terakhir sampai dalam semalam,
hingga harap itu membentuk celah pedih yang tenggelam.
Mata mengikuti ke mana tanya ingin mereda,
mengamati setiap luka yang ditata dengan sempurna,
seperti siluet yang menghiasi bilah jiwa,
yang tergambar dalam rela yang mengakar lama,
menjerat buih di raga lain yang pernah singgah dalam cerita.
Di sudut ruang, satu kursi menghadap utara,
seperti melepas pandangan, meski tak ada raga.
Di atas pangkuan kayu yang lapuk, didera nadi yang melaju,
sembari menyulam garis yang silih beradu
di tengah jeda panjang yang tak memiliki akhir yang lapang.
Lagi-lagi intuisi mengunggah sekeping kata
tentang manusia yang mahir memaparkan nestapa,
lalu memberi restu pada luka untuk menepi.
Apakah manusia belum cukup dengan segala derita ini?
Tak ada yang bergeming, semua menutup diri.
Namun ada satu benang merah menarik ilusi,
raut wajah yang selaras dengan sendu bayangku.
Seketika memori mengais duka dan lara
dari bagian hidup yang tak ada dalam rencana.
Aku tak menepis, seluruhnya kudekap tanpa memilah lagi.
Jahitan luka itu memberi warna yang lahir di tepian asa,
menembus relung sukma yang kunamai luka abadi.
Tapi lagi-lagi manusia kerap menutup luka dengan sederhana,
membiarkan laku hidup menjalankan perannya.





