Jam tujuh pagi.
Air mendidih menari-nari.
Harummu masih di sini,
meski tanah kini memelukmu lebih mesra dari nadi.
Ah, berbicara tentang Nadi,
kini ia sudah bisa menggelitiki jari-jemari.
Aku juga sudah sedikit banyak mengangkat pensil lagi.
Tidak sesering dulu, tentu.
Tetapi tidak mendekam dalam kepala lagi.
Sedikit banyak takut, sebenarnya.
Kalau dibiarkan sendiri dan melahap semuanya, aku takut ujungnya aku yang akan habis: disantap diri sendiri.
Kemarin,
ada lagi yang pergi.
Tetapi sesakku hanya tinggal berhari-hari,
tidak sampai membentuk koloni di sudut laci.
Tenang saja. Aku kini sudah pandai perihal lucu: luka dan kecut.
Meski kadang masih diam dan juga menyimpul senyum ketika mereka datang beriringan dan berdentum-dentum,
membentuk orkestra dan menggugah eardrum.
Tetapi dunia adalah dunia.
Kalau sedang terasa menikam habis-habisan,
yang kubisa adalah menabur mereka di atas baris,
biar ambil tempat sendiri.
Tak usahlah aku bantu berdiri.
Mereka kini sudah pandai:
menepi;
merapi;
dan menyemai.
Hari ini, aku mengambil cuti.
Berjalan kaki,
menghirup aroma debu dan bakaran roti,
membeli bunga anyelir putih,
melambai senyum pada anak-anak kecil yang berlari,
dan merindukan kamu sampai di penghujung hari.
Lucu, ya. Kemarin kita masih menyanyi dan bermimpi tinggi sekali,
tetapi sekarang aku sibuk di kepala sendiri karena merindukan kamu banyak sekali.
Mengapa, dari banyak waktu kamu di sini,
aku lupa sekali menyelipkan lantunan sayang dan terima kasih.
Lucu juga karena yang hilang adalah kamu,
tapi rasa-rasanya belakangan aku juga tidak merasa sebagaimana aku.
Kuning dan jingga juga banyak bersembunyi karena biru terlalu erat dan abu terlalu pekat.
Kemarin, aku menemukan lagu baru yang sangat kamu.
Sayangnya, kamu sudah tidak lagi mendengar dengan telinga.
Besok, bisa jadi aku kelimpungan kalau bertemu senyum yang serupa denganmu.
Tetapi tidak apa,
karena aku masih bisa menulis kamu.
Dan selama aku masih merasa,
kamu akan selamanya abadi di sini.
Bahkan mungkin melebihi aku sendiri.





