Mentari berlari meninggalkan terang.
Di langit yang memerah,
kulihat senja datang,
sebentar singgah
lalu menghilang.
Mega berarak ke utara,
menari, melenggang,
bak selendang
dari bahu langit
yang lepas dibawa angin petang.
Aku ingin jadi salah satunya,
ringan dan tenang,
tak perlu lekas pulang.
Awan putih kemerahan menjauh.
Mega-mega pun berarak menjauh.
Kulihat bagai kawanan domba
yang perlahan hilang kepalanya,
hilang tubuhnya,
lalu ikalnya.
Domba-domba yang ikal!
Ke mana perginya ikalmu?
Kan bagus,
seperti rambutku
waktu disisir ibu.
Mengapa yang tinggal
hanya merahnya?
Kini mega itu berubah lagi,
menjadi taman bunga
yang terapung tinggi.
Merah, hijau, kelabu,
entah bunga apa namanya.
Ingin juga
kupetik satu,
lalu kuselipkan di rambutku.
Namun bunga-bunga itu pun hilang,
padahal baru saja datang.
Merahnya tinggal tipis sendiri.
Bentuk-bentuk itu lepas
satu-satu,
lalu hanyut
entah ke mana pergi.
Senja pun padam perlahan.
Langit redup,
malam datang.
Dan segala yang berarak tadi
masuk kembali
ke dalam lengang.
Yang tinggal bukan dombanya,
bukan pula selendangnya.
Hanya merah yang sebentar menyala,
lalu surut di pelupuk mata.
Dan aku
masih menyimpan
usap tangan ibu
di rambutku yang dulu,
di senja yang sebentar datang,
di sore yang nyaris hilang.





