Sandal dan langkah kaki silih berganti di ruang tamu.
Suara bisik dan derit kursi saling bertumpuk, menjadi bagan yang tak satu.
Keras pun aku mencoba,
suara mereka tak pernah benar-benar sampai ke telinga.
Segala bunyi lain teredam
oleh adik yang terus memanggil ibu.
“Sst, nanti saja... Ibu masih tidur.”
Hari ini, rumahku lebih ramai dari biasa.
Sudut bibir ayah ditarik paksa,
membentuk senyum yang mati rasa.
Tatapan matanya sayu, seolah melihat sesuatu di tempat yang jauh.
Pundaknya naik turun—bergetar pelan—seperti anak kucing yang kedinginan.
Hari ini, ayah tidak tersenyum seperti biasa.
Tubuh ibu yang ramping terbaring kaku,
seolah canggung berada di ranjang baru.
Bola mata indah yang hitam legam
saat ini setia terpejam,
terlalu diam untuk sekadar istirahat.
Baru sekarang aku sadar,
kulit ibu ternyata putih sekali—dan dingin.
Hari ini, ibu tidur lebih lama dari biasanya.
Ibu,
aku ingin bercerita tentang semalam.
Celotehan itu masih tinggal di kepalaku dengan nyaman.
Semalam, aku terlalu terbuai
dengan kecupan kening
dan nyanyian pengantar mimpi.
Ibu, kenapa masih tidur?
Ibu, ternyata tidak bangun lagi, ya.





