Yang Maha Pengasih...
Izinkan hamba melihat wajah penyejuk hati,
sepasang mata cerah berbinar laksana Polaris,
dan senyuman hangat berseri serupa mentari.
Tolong izinkan hamba mendengar suara lembutnya lagi,
sebentar saja tidak apa, meski hanya di dalam mimpi.
Meski telah tiada yang hamba imami,
titah-Mu tetap hamba jalani sepenuh hati.
Termasuk takdir yang mengguncang hati,
tanpa gemerincing lonceng buah hati.
Tolong temani hamba menapaki jalan sunyi.
Yang Maha Memberi...
Dia pasti menangis jika mendengar ini,
tolong sampaikan pada sang bidadari.
Adinda, tolong bersabar menanti.
Meski akan sulit, meski menangis dalam sepi,
semua mimpi di buku harianmu pasti aku raih.
Aku berjanji untuk berdiri, melangkah meski tertatih.
Terus berlari hingga aku bertemu denganmu lagi.
Di napas senja ini,
empat puluh tahun sudah hamba berlari.
Hampir semua mimpinya telah hamba tepati.
Bukan berarti ingin cepat mati,
hamba bersyukur atas serpihan surga yang Engkau beri.
Hanya tidak sabar menanti,
maaf karena tidak kuasa membendung rindu ini.
Yang Maha Penyayang...
Tolong ikat kembali kami berdua,
seperti ayat-ayat yang pernah kami baca.
Di bawah pohon permen kapas,
di antara langit biru, ungu, jingga, dan merah muda.
Di atas permadani hijau luas,
di tengah triliunan bintang dan ribuan balon udara.
Sebuah tempat-Mu dalam kerajaan surga.





