Tidak seharusnya hari itu terjadi:
kita berdua sepakat menjadi penjahat,
menanam bom waktu yang telaten
menghitung dirinya sendiri.
Selagi kita mencari tempat persembunyian
di tengah kota, kita diburu, diteror,
dipenuhi pertanyaan, “Akankah kita
tetap bersama selepas pembantaian?”
Satu per satu kita lenyapkan
sampai senyum luntur di wajah kita.
Kala itu kau bertanya, “Sudahkah?
Sudah ledak bom waktu ini?”
Kujawab, di tempat yang salah kita mencintai.
Menangis di depan hari-hari yang terkapar,
sia-sia bersama abu disapu angin.
Misal ada sebuah kota yang membolehkan
siapa saja mencintai siapa pun,
tentu
aku tidak akan memilih mencintai kematian,
apalagi mencintaimu. Lagi pula,
keduanya sama-sama membunuhku.
Aku akan tetap mencintai pikiranku
hingga melampaui batas.
Supaya bisa kuubah segala yang perih
dan memperihatinkan di antara kita
menjadi perihal-perihal indah
yang layak diperlihatkan.
Maka izinkan aku membayangkan
suatu pagi kau datang padaku
setelah aku hampir menyerah mencari-carimu.
Kita berdua kembali berpelukan
sebagai sepasang pendosa
yang kini sepasang peziarah,
menyambangi kubur batu yang sama.
Meski teguh kaukatakan berkali-kali,
“Kita bukan Nietzsche,”
telah terpampang segudang bukti
yang mengatakan bahwa kita
tak pernah sudi mengecup tangan Tuhan
dan berpamitan sebelum pergi
meninggalkannya.
Tangan Tuhan mana yang aku maksud?
Apakah tangan yang dengan sengaja
mempertemukan kita dalam kobaran api
yang gagal membakar sepasang patung batu,
ataukah tanganku di atas kertas
yang menjadikanku cukup
merawatmu dalam puisi?





