Ada banyak kata yang kita simpan
bukan karena ia tidak penting,
melainkan karena kita tidak tahu
kepada siapa ia harus pulang.
Sebagian tinggal di ujung lidah
namun tak pernah menjadi suara.
Sebagian lagi diam di dalam dada,
tumbuh perlahan seperti rindu
yang tidak pernah benar-benar selesai.
Waktu berjalan seperti biasa—
hari berganti, musim bergeser,
dan kita belajar terlihat baik-baik saja
di hadapan dunia.
Namun di sela kesibukan itu,
kata-kata yang tertunda masih menunggu:
sebuah terima kasih yang terlambat,
permintaan maaf yang tidak sempat disampaikan,
atau sekadar kalimat sederhana
yang ingin mengatakan,
“Aku pernah sangat peduli.”
Mungkin tidak semua kata
ditakdirkan untuk sampai.
Ada yang hanya perlu ditulis
agar hati tidak lagi menanggungnya sendirian.
Dan malam ini,
di antara sunyi yang lembut,
kata-kata itu akhirnya menemukan tempatnya—
bukan pada seseorang,
melainkan pada kelegaan
yang perlahan pulang ke dalam diri.





