Ia seharusnya bangun pagi dengan mata yang masih berat oleh sisa mimpi.
Seharusnya ada nasi hangat, seragam yang dilipat rapi, dan langkah kecil menuju sekolah dasar di desanya.
Namun pagi itu berbeda.
Anak kelas 4 SD di NTT itu ditemukan tergantung di pohon cengkih, tak lagi bernapas.
Dunia terlalu cepat menutup pintu untuk bocah berusia 10 tahun itu.
Ia seharusnya masih sibuk menghafal perkalian dan menulis huruf sambung.
Tapi entah dari mana, ia belajar satu pelajaran paling kelam: bahwa nyawa bisa diakhiri dengan seutas tali.
Sebuah surat kecil ia tinggalkan, ditulis dengan tangan yang mungkin masih gemetar.
“Mama jangan menangis kalau saya tidak ada.”
Kalimat itu bukan sekadar tulisan.
Itu jeritan paling polos dari anak kecil.
Terlihat sepele, tetapi mampu meninggalkan luka paling dalam untuk mereka yang ditinggalkan.
Tak ada konflik besar. Tak ada pertengkaran.
Hanya pena dan buku.
Ia tak mendapat perlengkapan sekolah karena ibunya tak punya uang.
Itu pula yang disampaikan sang ibu kepada pihak berwenang.
Bukan karena tak mau, tapi karena tak mampu.
Lima anak lain menunggu makan hari itu.
Sudah sepuluh tahun ia sendirian menanggung semuanya sejak sang suami meninggalkannya.
Sedangkan, selama ini bocah malang itu tinggal bersama neneknya, jauh dari pelukan ibu yang juga sedang berjuang untuk hidup adik-adiknya.
Dalam sunyi itu, kebutuhan sekolah berubah menjadi beban batin.
Di kepala anak 10 tahun, ketiadaan buku mungkin terasa seperti kegagalan, seperti malu, seperti akhir dunia.
Surat itu menjadi petunjuk paling jelas: tekanan ekonomi dan perasaan tak berdaya.
Kasus anak SD NTT yang diduga bunuh diri ini pun mengguncang banyak pihak, sekaligus membuka luka lama tentang kemiskinan struktural dan lemahnya perlindungan anak.
Luka ini bukan sekadar cerita satu keluarga.
Ini potret kegagalan kolektif.
Gagalnya orang dewasa memastikan anak aman secara mental dan ekonomi.
Gagalnya sistem negara dalam menjamin pendidikan dasar dan ekonomi rakyatnya.
Dan gagalnya kita membaca tanda-tanda luka yang tak berdarah.
Sisi Lain Cerita
Anak-anak seharusnya tumbuh dengan tawa, bukan dengan perhitungan biaya hidup.
Mereka berhak takut pada ulangan, bukan pada kemiskinan.
Tragedi ini mengingatkan kita bahwa membawa nyawa ke dunia bukan sekadar soal cinta, tapi kesiapan: emosional, ekonomi, dan sosial.





