Pena yang Tak Terbeli dan Nyawa yang Tak Kembali

Shasmitha Mutiara

DATE :

Friday, February 6, 2026

Ia seharusnya bangun pagi dengan mata yang masih berat oleh sisa mimpi.

Seharusnya ada nasi hangat, seragam yang dilipat rapi, dan langkah kecil menuju sekolah dasar di desanya.

Namun pagi itu berbeda.

Anak kelas 4 SD di NTT itu ditemukan tergantung di pohon cengkih, tak lagi bernapas.

Dunia terlalu cepat menutup pintu untuk bocah berusia 10 tahun itu.

Ia seharusnya masih sibuk menghafal perkalian dan menulis huruf sambung.

Tapi entah dari mana, ia belajar satu pelajaran paling kelam: bahwa nyawa bisa diakhiri dengan seutas tali.

Sebuah surat kecil ia tinggalkan, ditulis dengan tangan yang mungkin masih gemetar.

“Mama jangan menangis kalau saya tidak ada.”

Kalimat itu bukan sekadar tulisan.

Itu jeritan paling polos dari anak kecil.

Terlihat sepele, tetapi mampu meninggalkan luka paling dalam untuk mereka yang ditinggalkan.

Tak ada konflik besar. Tak ada pertengkaran.

Hanya pena dan buku.

Ia tak mendapat perlengkapan sekolah karena ibunya tak punya uang.

Itu pula yang disampaikan sang ibu kepada pihak berwenang.

Bukan karena tak mau, tapi karena tak mampu.

Lima anak lain menunggu makan hari itu.

Sudah sepuluh tahun ia sendirian menanggung semuanya sejak sang suami meninggalkannya.

Sedangkan, selama ini bocah malang itu tinggal bersama neneknya, jauh dari pelukan ibu yang juga sedang berjuang untuk hidup adik-adiknya.

Dalam sunyi itu, kebutuhan sekolah berubah menjadi beban batin.

Di kepala anak 10 tahun, ketiadaan buku mungkin terasa seperti kegagalan, seperti malu, seperti akhir dunia.

Surat itu menjadi petunjuk paling jelas: tekanan ekonomi dan perasaan tak berdaya.

Kasus anak SD NTT yang diduga bunuh diri ini pun mengguncang banyak pihak, sekaligus membuka luka lama tentang kemiskinan struktural dan lemahnya perlindungan anak.

Luka ini bukan sekadar cerita satu keluarga.

Ini potret kegagalan kolektif.

Gagalnya orang dewasa memastikan anak aman secara mental dan ekonomi.

Gagalnya sistem negara dalam menjamin pendidikan dasar dan ekonomi rakyatnya.

Dan gagalnya kita membaca tanda-tanda luka yang tak berdarah.

Sisi Lain Cerita

Anak-anak seharusnya tumbuh dengan tawa, bukan dengan perhitungan biaya hidup.

Mereka berhak takut pada ulangan, bukan pada kemiskinan.

Tragedi ini mengingatkan kita bahwa membawa nyawa ke dunia bukan sekadar soal cinta, tapi kesiapan: emosional, ekonomi, dan sosial.

SELAMAT DATANG DI

RUANG BERBAGI CERITA

JANGAN LEWATKAN CERITA BARU

Ikuti kabar, cerita, dan apresiasi terbaru. Jadilah Penjelajah Cerita yang selalu terhubung.

Satu cara kecil untuk tetap terhubung dengan semesta yang kamu cintai.

SELAMAT DATANG DI

RUANG BERBAGI CERITA

JANGAN LEWATKAN CERITA BARU

Ikuti kabar, cerita, dan apresiasi terbaru. Jadilah Penjelajah Cerita yang selalu terhubung.

Satu cara kecil untuk tetap terhubung dengan semesta yang kamu cintai.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

Di dunia yang terus berlari, kita perlahan kehilangan jeda untuk benar-benar merasa. Banyak hal dibiarkan mengendap; kata yang tidak sempat terucap, perasaan yang tidak tahu harus pulang ke mana. Kita tertawa di hadapan ramai, namun diam-diam menyimpan sunyi yang memantul di dalam dada. Lalu waktu berlalu begitu saja. Tanpa kita sadari, ada bagian dari diri yang ingin didengar, ingin dipeluk, ingin diberi ruang untuk jujur tanpa harus kuat setiap saat.


Semesta Bercerita tercipta sebagai ruang yang pelan, tempat kata menemukan makna, luka menemukan jeda, dan jiwa beristirahat tanpa perlu menyembunyikan apa-apa. Di sini, setiap kisah dihargai, setiap suara berarti, dan setiap rasa diterima apa adanya. Kami percaya bahwa cerita mampu menyembuhkan, mempertemukan, dan menyalakan kembali cahaya kecil di dalam diri. Di antara sunyi dan suara, kita akan tumbuh bersama: menulis, mendengar, dan saling menguatkan, satu cerita pada satu waktu.

© 2026 SEMESTA BERCERITA - ALL RIGHTS RESEVED

SEMESTA

MENU

Follow Us