Aku adalah Willa.
Dunia bagiku dulu tidak lebih besar dari gang sempit dan suara radio tua.
Di dalam dunia kecil itu, segalanya terasa abadi.
Dalam film, aku tidak sedang mengejar mimpi besar. Aku hanya berusaha memahami hal-hal sederhana.
Aku tumbuh di Surabaya tahun 1960-an, di mana waktu berjalan lebih pelan, tapi perasaan justru datang lebih cepat.
Setiap pagi, aku percaya dunia akan selalu sama.
Bahwa suara radio akan tetap menyala.
Bahwa tawa akan tetap tinggal.
Bahwa orang-orang yang aku cintai tidak akan pergi ke mana-mana.
Tapi hidup, rupanya, tidak pernah benar-benar diam di tempat, tidak pernah selalu ada seperti yang aku inginkan.
Ada hari ketika aku mulai menyadari bahwa perubahan itu tidak datang dengan suara keras. Ia hadir pelan-pelan, seperti bayangan yang memanjang saat matahari mulai turun. Awalnya samar, lalu perlahan tak bisa diabaikan.
Aku belajar bahwa kehilangan tidak selalu berarti seseorang benar-benar pergi. Kadang, ia hanya berubah bentuk. Menjadi kenangan. Menjadi jarak. Menjadi sesuatu yang tak bisa lagi disentuh, tapi tetap tinggal di dalam hati.
Sebagai anak kecil, aku tidak punya banyak kata untuk menjelaskan semuanya. Aku hanya bisa merasakannya.
Dan mungkin, itu cukup.
Karena dari situlah aku mulai mengerti bahwa dunia orang dewasa tidak sesederhana yang terlihat. Bahwa di balik diam mereka, ada banyak hal yang tidak pernah mereka ucapkan.
Film Na Willa bukan tentang kejadian besar. Tidak ada ledakan, tidak ada konflik yang berteriak. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia mengajak kita melihat ulang hal-hal kecil yang dulu pernah kita miliki, lalu perlahan kita lupakan.
Melalui mataku, kamu mungkin akan kembali mengingat bahwa masa kecil bukan sekadar waktu, tapi tempat. Tempat di mana segala sesuatu terasa utuh, sebelum hidup mulai mengajarkan arti kehilangan.
Sisi Lain Cerita
Ada satu hal yang sering kita abaikan saat tumbuh dewasa: kita terlalu sibuk bergerak maju, sampai lupa bahwa dulu kita pernah berhenti untuk benar-benar merasakan.
Dari film Na Willa, kita belajar bahwa perubahan adalah bagian dari hidup, tapi bukan berarti kita harus kehilangan kepekaan. Kenangan, sekecil apa pun, punya cara untuk menjaga kita tetap manusia.
Mungkin kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Tapi kita selalu bisa memilih untuk tidak melupakan bagaimana rasanya menjadi “utuh” di dalamnya.





