Di sebuah kebun binatang di Jepang, ketika musim panas menggantung terik di atas kandang-kandang yang lengang, lahirlah seekor bayi Japanese macaque kecil yang kini dikenal dengan nama Punch.
Tubuhnya mungil, jemarinya masih gemetar mencari pegangan, dan dunia yang menyambutnya terasa terlalu luas untuk napas pertamanya.
Namun hidup Punch tidak dimulai dengan pelukan hangat.
Persalinan yang sulit membuat sang induk kelelahan.
Di antara rasa sakit dan insting yang kacau, ia justru menjauh dari bayi yang baru saja lahir dari rahimnya sendiri.
Di alam liar, sering kali ada betina lain yang mengambil alih bayi yang ditinggalkan.
Naluri kelompok kadang menyelamatkan yang rapuh.
Namun di kebun binatang itu, tak satu pun monyet gunung lain yang ingin merawat Punch.
Ia seperti bayangan kecil yang tak terlihat, hadir namun tak benar-benar diterima.
Akhirnya, tangan manusialah yang turun tangan.
Para petugas kebun binatang memutuskan menjaga makhluk kecil itu.
Mereka memberinya susu, kehangatan, dan pengawasan yang tak pernah ia dapat dari induknya sendiri.
Di sudut kandang, sebuah boneka monyet diletakkan di sisinya: lembut, diam, dan selalu ada.
Punch sering terlihat memeluk boneka itu erat-erat, membawanya ke mana-mana, seolah di sanalah ia memperoleh kasih sayang yang tak sempat didapatkannya dari sang induk.
Hari-hari berlalu. Punch tumbuh.
Ia memang tidak tumbuh menjadi yang paling dominan.
Ia bukan pusat perhatian kawanan.
Ia tetap monyet kecil yang pernah ditolak, yang selalu sendirian.
Namun di balik kesendirian itu, ada daya hidup yang tak mudah padam.
Setiap tegukan susu, setiap langkah kecil yang ia ambil, adalah bukti bahwa ia memilih bertahan.
Dan untuk hidup di dunia, bertahan adalah sebuah bentuk kemenangan.
Kisah Punch perlahan menyebar.
Foto-fotonya beredar luas, memperlihatkan tatapan mata kecil yang terasa begitu manusiawi, seolah menyimpan luka, namun juga menyisakan cahaya harapan.
Banyak orang melihat diri mereka di sana: tentang penolakan yang pernah dialami, tentang rasa tak diinginkan, tentang berdiri sendirian ketika yang lain memiliki pelukan.
Punch bukan sekadar monyet kecil di kebun binatang Jepang.
Ia adalah gambaran tentang mereka, tentang kita, yang tumbuh tanpa dukungan sempurna, namun memilih tetap hidup, tetap melangkah, tetap percaya bahwa esok masih layak diperjuangkan.
Sisi Lain Cerita
Kadang, hidup memang tidak memberi kita awal yang ideal.
Tidak semua orang lahir dalam pelukan yang utuh.
Tidak semua perjalanan dimulai dengan rasa aman.
Namun masa depan tidak sepenuhnya ditentukan oleh bagaimana kita diterima di hari pertama. Ia ditentukan oleh bagaimana kita memilih untuk bertahan di hari-hari berikutnya.
Punch mengajarkan bahwa luka tidak selalu mengakhiri cerita.
Selama ada kemauan untuk hidup, selalu ada kemungkinan untuk tumbuh.
Dan di dunia yang kadang terasa jahat ini, bertahan adalah cara untuk berkata: aku tetap ada.





