Film Tak Ada Makan Siang Gratis sepertinya membuka kembali luka yang selama ini disembunyikan rapi di balik jargon program makan siang gratis.
Luka itu nyata, terasa, dan berdenyut pelan dalam hidup Pak Agustinus.
Guru honorer asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, itu adalah satu dari ribuan wajah yang jarang muncul di layar, tetapi paling merasakan dampaknya.
Sejak lama, hidup Pak Agustinus sudah berjalan di garis tipis kebertahanan.
Tahun 2025, ia menggenggam gaji Rp600.000 per bulan, jumlah yang bahkan tak cukup untuk menyebut kata “layak.”
Namun harapannya masih ada.
Ia percaya pendidikan selalu jadi prioritas negara.
Nyatanya, hidupnya justru semakin terpuruk.
Program MBG datang membawa janji kebaikan bagi anak-anak sekolah.
Namun di sisi lain, MBG mengharuskan pemerintah memotong dana pendidikan.
Dana yang selama ini menjadi napas hidup guru honorer seperti Pak Agustinus menyusut drastis.
Gajinya kini tinggal Rp223.000 per bulan.
Angka yang terasa kejam di zaman ketika harga kebutuhan naik tanpa kompromi.
Mengenaskan, dan mungkin tak pernah benar-benar dibayangkan oleh para pengambil kebijakan bagaimana hidup dengan uang ratusan ribu rupiah saja.
Rasanya, luka itu belum cukup ditorehkan.
Di tengah keterpurukan itu, Pak Agustinus mendengar kabar lain: puluhan ribu pegawai SPPG akan diangkat menjadi PPPK.
Kebijakan SPPG jadi PPPK itu terdengar megah di telinga publik, tetapi terasa pahit bagi mereka yang sudah mengabdi puluhan tahun tanpa kepastian.
Bagaimana bisa para pegawai SPPG diangkat jadi PPPK, sementara guru honorer tetap menunggu di lorong waktu yang tak kunjung terang?
Pak Agustinus bertanya dalam diam.
Bukankah ia juga mencerdaskan anak-anak negeri ini?
Bukankah kesabarannya sudah diuji bertahun-tahun?
Mengapa penghormatan justru datang lebih cepat pada mereka yang baru berjalan beberapa langkah?
Apakah setidak adil itu hidup di negara ini?
Ataukah pemerintah memang tak sungguh-sungguh melihat nasib para guru honorer?
Negara ini tak miskin. Negara ini kaya.
Buktinya, miliaran rupiah per hari sanggup digelontorkan demi makan siang.
Anggarannya bahkan meningkat dari tahun sebelumnya.
Kini, para pegawai SPPG pun akan digaji penuh oleh negara.
Negara ini tak miskin. Negara ini kaya.
Hanya saja, kekayaan itu sering tak diarahkan pada hal yang paling mendesak: manusia yang bertahan di garis paling bawah.
Negara ini tak miskin. Negara ini kaya.
Namun telinga para pembuat kebijakan kerap tertutup saat jeritan paling sunyi diperdengarkan.
Sisi Lain Cerita:
Negara seharusnya hadir sebagai penolong, bukan menambah beban luka warganya. Kebijakan yang baik lahir dari empati, bukan sekadar hitungan anggaran.
Dan uang negara, yang berasal dari keringat rakyat, seharusnya kembali kepada mereka yang paling lama bertahan dalam ketidakadilan.





