Di dunia yang tak lagi mengenal batas geografis, pertemuan manusia kini terjadi dalam bentuk yang paling sederhana sekaligus paling berbahaya: kata-kata.
Bukan pelukan, bukan tatapan mata, melainkan huruf-huruf yang diketik cepat, dikirim tanpa jeda, lalu menyebar seperti riak di permukaan air.
Begitulah awal mula konflik antara sebagian warganet Korea Selatan dan Asia Tenggara, sebuah pertikaian yang tidak mengeluarkan darah, tetapi meninggalkan luka yang nyata.
Semua bermula dari sebuah konser.
Lampu sorot menyinari panggung, musik mengalun, dan ribuan orang berkumpul dengan tujuan yang sama: merayakan idola yang mereka cintai.
Namun, di balik euforia itu, terjadi sesuatu yang tampak kecil: perdebatan tentang aturan, tentang siapa yang boleh membawa kamera, tentang siapa yang melanggar dan siapa yang merasa berhak.
Awalnya, itu hanya kritik biasa.
Sebuah teguran yang mungkin akan tenggelam di antara jutaan percakapan lain di internet. Tetapi internet, seperti hutan kering di musim kemarau, selalu siap terbakar oleh percikan terkecil.
Kata-kata berubah menjadi tuduhan.
Tuduhan berubah menjadi ejekan.
Dan ejekan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam: serangan terhadap identitas, terhadap rupa, terhadap asal-usul.
Sebagian warganet Asia Tenggara merasa dihina, bukan sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari sebuah kawasan, sebuah rumah bersama yang selama ini mereka kenal.
Sebagai respons, lahirlah solidaritas.
Mereka menyebut diri mereka SEAblings, saudara yang dipersatukan bukan oleh darah, tetapi oleh pengalaman yang sama.
Mereka membalas, bukan hanya dengan kemarahan, tetapi juga dengan kritik, dengan sindiran, dengan upaya untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sekecil yang dianggap.
Ironisnya, konflik ini terjadi di tengah kecintaan yang sama. Musik yang sama. Idola yang sama. Budaya yang sama-sama mereka kagumi.
Di sinilah paradoks itu terasa paling nyata: bagaimana sesuatu yang seharusnya menyatukan, justru menjadi alasan untuk saling berjauhan.
Internet, pada akhirnya, hanyalah cermin.
Ia memantulkan apa yang kita bawa ke dalamnya: empati atau ego, pengertian atau prasangka. Dan sering kali, tanpa kita sadari, kita memilih untuk menjadi lebih berani menyakiti karena kita tidak perlu melihat langsung dampaknya.
Padahal, di balik setiap akun, ada manusia.
Ada seseorang yang bisa merasa.
Seseorang yang juga manusia sama seperti kita, yang juga bisa terluka.
Sisi Lain Cerita
Kita hidup di zaman di mana satu kalimat bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan detik. Dan justru karena itulah, kita harus belajar memilih kata dengan lebih hati-hati.
Sebab pada akhirnya, yang akan diingat bukan seberapa cepat kita membalas, tetapi seberapa bijak kita memilih untuk tidak melukai.





