Sama seperti hari-hari biasa, Pak Sudrajat melangkahkan kaki menyusuri setiap sudut gang sambil membawa es gabusnya.
Kudapan jadul itu sudah lama menjadi teman setia, manis, dingin, dan selalu ditunggu anak-anak yang bermain di bawah matahari.
Hari itu terik.
Dalam benaknya sempat terlintas harapan sederhana: es gabusnya akan laku lebih banyak dari hari biasa.
Namun harapan itu berhenti di tengah jalan.
Bukan pembeli yang menghampiri, melainkan beberapa oknum aparat yang menghentikan langkahnya.
Entah atas perintah siapa.
Entah karena curiga, atau sekadar ingin memastikan kuasa tetap berada di tangan mereka.
Yang jelas, sejak detik itu, es gabus tak lagi sekadar jajanan, ia berubah menjadi objek tuduhan.
Kotak dagangan Pak Sudrajat dibuka.
Es gabus yang menjadi penyambung hidupnya dirampas, diremas, dan dihancurkan.
Perlakuan itu tak hanya merusak barang dagangan, tapi juga melukai harga diri seorang penjual kecil.
Belum cukup sampai di situ, Pak Sudrajat dipaksa memakan es gabus yang telah hancur. Semua demi membuktikan satu tuduhan yang terdengar ganjil: penjual es gabus dituduh pakai bahan spons.
Adegan itu direkam.
Kamera ponsel menyala, dan luka Pak Sudrajat ikut diabadikan dalam video yang kemudian menyebar luas di sosial media.
Netizen bereaksi keras.
Banyak yang marah, tak percaya bagaimana aparat bisa tak mengenali jajanan jadul yang telah lama hidup di ingatan kolektif masyarakat.
Tuduhan bahwa es gabus dibuat dari spons terasa tak masuk akal, bahkan kejam.
Kegaduhan akhirnya sampai pada tahap yang seharusnya: pembuktian ilmiah.
Sampel es gabus diuji secara resmi.
Hasilnya jelas: aman, tidak mengandung bahan berbahaya, dan sama sekali tidak menggunakan spons.
Lokasi pembuatan es gabus Pak Sudrajat pun diperiksa.
Dapur sederhana itu bersih, tanpa jejak pelanggaran apa pun.
Semua tuduhan gugur satu per satu.
Saat kebenaran terungkap, pertanyaan baru muncul.
Bagaimana mungkin mereka yang seharusnya melindungi justru lebih dulu menghakimi? Bagaimana luka yang sudah terlanjur terekam dan tersebar bisa disembuhkan hanya dengan selembar hasil uji laboratorium?
Di balik semua itu, Pak Sudrajat tak sepenuhnya sendirian.
Dukungan datang dari berbagai pihak.
Bantuan mengalir, simpati bermunculan, dan penjual es gabus itu kembali dikenal, bukan karena rasa manis dagangannya, melainkan karena luka yang sempat dipertontonkan. Barangkali benar, ada kalanya seseorang harus dijatuhkan lebih dulu untuk kemudian dilihat sebagai manusia seutuhnya.
Sisi Lain Cerita
Jangan dulukan sombongmu, jangan dulukan seragammu.
Siapa pun kamu, apa pun jabatanmu, hormatilah orang lain, bahkan mereka yang kamu anggap tak sebanding denganmu.





