LPDP, Paspor Inggris, dan Cinta Negeri yang Dipertanyakan

Shasmitha Mutiara

DATE :

Friday, February 27, 2026

Nama Dwi Sasetyaningtyas mendadak bergaung di ruang-ruang percakapan.
Bukan karena toga kelulusan di negeri seberang, bukan pula karena ketekunannya menembus seleksi beasiswa yang terjal.
Ia dikenal karena sebuah video singkat dan satu kalimat yang terucap ringan, tetapi menyinggung hati banyak warga Indonesia.

Di layar itu, tampak paspor Inggris milik anaknya.
Lalu sebuah pernyataan yang mengalir tanpa jeda: biarlah dirinya saja yang menjadi WNI, anak-anaknya tidak.
Kalimat itu melesat, lalu memantul, lalu membesar.
Dalam hitungan jam, percakapan publik berubah menjadi gelombang.

Dwi dan suaminya adalah penerima beasiswa dari LPDP yang lahir dari pajak rakyat, dari kerja keras orang-orang yang mungkin tak pernah menjejakkan kaki ke luar negeri, tetapi percaya bahwa ilmu adalah jembatan masa depan.
Beasiswa itu bukan sekadar ongkos kuliah atau tiket pesawat.
Ia membawa siapapun untuk bisa belajar setinggi mungkin, lalu kembali memberi untuk negeri.

Maka ketika kabar tentang kewarganegaraan anak mencuat, ada hati yang terasa tersentak. Ada yang kecewa.
Ada yang marah.
Ada yang merasa dikhianati oleh harapan yang pernah dititipkan. 

Di zaman ketika jempol lebih cepat dari pikiran, satu potongan kalimat bisa menjelma badai. Video itu diputar ulang, dipotong, diperdebatkan di kolom komentar.
Kata “nasionalisme” kembali dihidupkan.
Kata “pengabdian” ditimbang ulang.
Bahkan kewajiban kontribusi para awardee ikut disorot, seolah publik ingin memastikan bahwa setiap janji benar-benar ditepati.

Namun di tengah riuh itu, ada sisi yang lebih manusiawi.
Keputusan orang tua tentang masa depan anak sering lahir dari percampuran harapan dan ketakutan, keinginan memberi jalan yang lebih aman, lebih luas, lebih terjamin.
Bagi sebagian diaspora, kewarganegaraan bukan hanya soal bendera, tetapi tentang akses dan peluang.
Meski begitu, ketika pilihan pribadi bersinggungan dengan dana publik, percakapannya tak lagi sederhana.

Permintaan maaf pun datang.
Dwi menjelaskan bahwa ucapannya adalah ekspresi personal, bukan bentuk penolakan pada tanah air.
Permintaan maaf mungkin tak langsung meredakan gelombang, tetapi ia membuka ruang untuk berpikir ulang.

Pada akhirnya, kisah ini bukan semata tentang satu keluarga atau satu paspor.
Ia adalah cermin tentang hubungan rapuh antara hak individu dan tanggung jawab kolektif.
Tentang bagaimana beasiswa negara adalah amanah, bukan sekadar fasilitas.

Sisi Lain Cerita

Di balik gemuruh perdebatan, ada satu kata yang tak boleh karam: amanah.
Beasiswa adalah titipan harapan, bukan sekadar biaya pendidikan.
Kita boleh mengejar langit setinggi-tingginya, tetapi janji harus tetap punya arah.
Karena pada akhirnya, yang diuji bukan hanya pilihan hidup, melainkan kesetiaan pada tanggung jawab yang pernah dipeluk.

SELAMAT DATANG DI

RUANG BERBAGI CERITA

JANGAN LEWATKAN CERITA BARU

Ikuti kabar, cerita, dan apresiasi terbaru. Jadilah Penjelajah Cerita yang selalu terhubung.

Satu cara kecil untuk tetap terhubung dengan semesta yang kamu cintai.

SELAMAT DATANG DI

RUANG BERBAGI CERITA

JANGAN LEWATKAN CERITA BARU

Ikuti kabar, cerita, dan apresiasi terbaru. Jadilah Penjelajah Cerita yang selalu terhubung.

Satu cara kecil untuk tetap terhubung dengan semesta yang kamu cintai.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

Di dunia yang terus berlari, kita perlahan kehilangan jeda untuk benar-benar merasa. Banyak hal dibiarkan mengendap; kata yang tidak sempat terucap, perasaan yang tidak tahu harus pulang ke mana. Kita tertawa di hadapan ramai, namun diam-diam menyimpan sunyi yang memantul di dalam dada. Lalu waktu berlalu begitu saja. Tanpa kita sadari, ada bagian dari diri yang ingin didengar, ingin dipeluk, ingin diberi ruang untuk jujur tanpa harus kuat setiap saat.


Semesta Bercerita tercipta sebagai ruang yang pelan, tempat kata menemukan makna, luka menemukan jeda, dan jiwa beristirahat tanpa perlu menyembunyikan apa-apa. Di sini, setiap kisah dihargai, setiap suara berarti, dan setiap rasa diterima apa adanya. Kami percaya bahwa cerita mampu menyembuhkan, mempertemukan, dan menyalakan kembali cahaya kecil di dalam diri. Di antara sunyi dan suara, kita akan tumbuh bersama: menulis, mendengar, dan saling menguatkan, satu cerita pada satu waktu.

© 2026 SEMESTA BERCERITA - ALL RIGHTS RESEVED

SEMESTA

MENU

Follow Us