CCTV itu merekam semuanya.
Ia jadi saksi yang tak pernah tidur.
Ia yang mengabarkan kepada publik bagaimana dua orang bermotor yang entah karena apa tiba-tiba berputar arah di jalan yang hampir sepi malam itu.
Bukan karena mereka tersesat.
Bukan pula karena mereka mencari jalan lain.
Mereka berbalik arah karena melihat seseorang yang sudah mereka cari.
Namanya Andrie Yunus.
Malam itu, sekitar pukul 23.37, Andrie mengendarai motornya setelah selesai melakukan aktivitasnya.
Baginya, malam itu seperti malam-malam yang lain.
Sayangnya, malam itu berbeda.
Dua orang bermotor mendekat.
Satu tetap memegang kendali kemudi.
Satu lagi menyiramkan sesuatu ke arah Andrie.
Dalam hitungan detik, cairan itu melayang ke tubuh Andrie. Air keras.
Serangan yang begitu cepat, namun meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada sekadar beberapa detik kejadian.
Menurut KontraS, cairan tersebut mengenai wajah, tangan, dada, hingga mata Andrie dan menyebabkan luka bakar serius di sekitar 24 persen tubuhnya.
Nama Andrie Yunus mungkin tidak sering muncul di layar televisi.
Ia bukan selebritas. Ia bukan pejabat.
Namun bagi banyak orang yang pernah kehilangan keluarga, pernah dipukul oleh kekuasaan, atau pernah dipaksa diam oleh ketidakadilan, nama itu adalah salah satu suara yang berdiri di garis depan.
Sebagai aktivis KontraS, Andrie adalah sosok yang vokal dalam mengkritik kebijakan yang dianggap mengancam demokrasi.
Salah satu momen yang membuat namanya ramai dibicarakan adalah ketika ia bersama aktivis lain menerobos rapat pembahasan revisi Undang-Undang TNI yang digelar secara tertutup di sebuah hotel di Jakarta pada Maret 2025.
Mereka menuntut agar proses legislasi dilakukan secara terbuka kepada publik.
Sejak kejadian itu, ancaman bukan lagi hal asing bagi Andrie.
Semuanya terasa seperti pesan tanpa kata: berhentilah bersuara.
Namun Andrie tetap berbicara.
Dan mungkin justru karena itulah peristiwa di malam itu terjadi kepadanya.
Serangan air keras ini bukan sekadar kekerasan terhadap satu orang.
Bagi banyak kelompok masyarakat sipil, peristiwa ini terasa seperti pesan yang lebih besar: bahwa keberanian kadang dianggap sebagai ancaman oleh mereka yang tak ingin dipertanyakan.
Sisi Lain Cerita
Teror penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus seolah menjadi peringatan bagi siapa pun yang berani bersuara: jangan sekali-kali mengusik mereka yang berada di puncak kekuasaan.
Namun, semakin banyak suara yang dibungkam, semakin banyak pula orang yang sadar bahwa suara itu sebenarnya penting.
Karena demokrasi tidak pernah hidup dari keheningan. Sejatinya, ia hidup dari keberanian orang-orang yang tetap berbicara, bahkan ketika dunia mencoba membuat mereka diam.





