Entah apa salah 11 juta penerima BPJS PBI.
Mendadak bantuan kesehatan yang rutin mereka terima itu dihentikan.
Padahal, banyak dari mereka yang benar-benar membutuhkan untuk tetap mempertahankan nyawa, berobat tanpa biaya.
Padahal, banyak dari mereka yang mengandalkan bantuan dari pemerintah itu untuk biaya cuci darah, hanya agar demi tetap bisa bernapas lagi esok hari.
Kini, di lorong-lorong rumah sakit, ada wajah-wajah yang menunggu lebih lama dari biasanya.
Bukan karena dokter tak datang, melainkan karena sistem berkata lain.
Nama mereka tak lagi terdaftar.
BPJS PBI dinonaktifkan, begitu bunyi keterangan singkat yang tak pernah menjelaskan rasa panik di dada mereka.
Pemerintah menyebut penonaktifan ini sebagai upaya penertiban data.
Katanya, BPJS PBI dinonaktifkan karena tidak tepat sasaran.
Ada jutaan penerima yang dianggap sudah tidak layak mendapat bantuan.
Namun di lapangan, cerita berjalan berbeda.
Penjual es keliling, tukang parkir, buruh harian, mereka yang hidupnya bergantung pada upah hari ini adalah yang paling terdampak.
BPJS PBI mereka mendadak nonaktif, tanpa peringatan sama sekali.
Bagi mereka, kartu BPJS PBI bukan sekadar selembar identitas.
Ia adalah jembatan hidup.
Ia adalah akses untuk tetap bisa berobat, agar tubuh yang sakit masih bisa bekerja esok hari.
Di balik masalah ini, ada fakta menyedihkan di luar sana.
Ada ibu yang harus memilih antara membeli obat atau membayar kontrakan.
Ada ayah yang menunda cuci darah karena biaya berobat tak lagi ditanggung.
Mereka seakan diminta berhenti sakit, padahal tubuh tak pernah bisa diajak bernegosiasi.
Ironisnya, proses reaktivasi yang dijanjikan juga bukan perkara mudah.
Dibutuhkan verifikasi ulang, laporan, menunggu entah berapa lama.
Sementara penyakit tak pernah mau menunggu kebijakan selesai dirapikan.
Di sinilah negara semakin terasa jauh, seperti tuli, tak mendengar jeritan rakyatnya.
Sisi Lain Cerita
Sudah seharusnya pemerintah lebih cerdas dan lebih berempati dalam membuat keputusan, karena sering kali, yang paling dulu dan paling dalam terluka adalah masyarakat kelas bawah, mereka yang napasnya dan hidupnya selalu diatur oleh sistem yang rumit.





