Ketika BPJS PBI Dinonaktifkan, Negara Seakan Pergi Saat Warganya Sangat Membutuhkan

Shasmitha Mutiara

DATE :

Friday, February 13, 2026

Entah apa salah 11 juta penerima BPJS PBI.
Mendadak bantuan kesehatan yang rutin mereka terima itu dihentikan.
Padahal, banyak dari mereka yang benar-benar membutuhkan untuk tetap mempertahankan nyawa, berobat tanpa biaya.
Padahal, banyak dari mereka yang mengandalkan bantuan dari pemerintah itu untuk biaya cuci darah, hanya agar demi tetap bisa bernapas lagi esok hari.

Kini, di lorong-lorong rumah sakit, ada wajah-wajah yang menunggu lebih lama dari biasanya.
Bukan karena dokter tak datang, melainkan karena sistem berkata lain.
Nama mereka tak lagi terdaftar.
BPJS PBI dinonaktifkan, begitu bunyi keterangan singkat yang tak pernah menjelaskan rasa panik di dada mereka.

Pemerintah menyebut penonaktifan ini sebagai upaya penertiban data.
Katanya, BPJS PBI dinonaktifkan karena tidak tepat sasaran.
Ada jutaan penerima yang dianggap sudah tidak layak mendapat bantuan.

Namun di lapangan, cerita berjalan berbeda.
Penjual es keliling, tukang parkir, buruh harian, mereka yang hidupnya bergantung pada upah hari ini adalah yang paling terdampak.
BPJS PBI mereka mendadak nonaktif, tanpa peringatan sama sekali.

Bagi mereka, kartu BPJS PBI bukan sekadar selembar identitas.
Ia adalah jembatan hidup.
Ia adalah akses untuk tetap bisa berobat, agar tubuh yang sakit masih bisa bekerja esok hari.

Di balik masalah ini, ada fakta menyedihkan di luar sana.
Ada ibu yang harus memilih antara membeli obat atau membayar kontrakan.
Ada ayah yang menunda cuci darah karena biaya berobat tak lagi ditanggung.
Mereka seakan diminta berhenti sakit, padahal tubuh tak pernah bisa diajak bernegosiasi.

Ironisnya, proses reaktivasi yang dijanjikan juga bukan perkara mudah.
Dibutuhkan verifikasi ulang, laporan, menunggu entah berapa lama.
Sementara penyakit tak pernah mau menunggu kebijakan selesai dirapikan.
Di sinilah negara semakin terasa jauh, seperti tuli, tak mendengar jeritan rakyatnya.

Sisi Lain Cerita

Sudah seharusnya pemerintah lebih cerdas dan lebih berempati dalam membuat keputusan, karena sering kali, yang paling dulu dan paling dalam terluka adalah masyarakat kelas bawah, mereka yang napasnya dan hidupnya selalu diatur oleh sistem yang rumit.

SELAMAT DATANG DI

RUANG BERBAGI CERITA

JANGAN LEWATKAN CERITA BARU

Ikuti kabar, cerita, dan apresiasi terbaru. Jadilah Penjelajah Cerita yang selalu terhubung.

Satu cara kecil untuk tetap terhubung dengan semesta yang kamu cintai.

SELAMAT DATANG DI

RUANG BERBAGI CERITA

JANGAN LEWATKAN CERITA BARU

Ikuti kabar, cerita, dan apresiasi terbaru. Jadilah Penjelajah Cerita yang selalu terhubung.

Satu cara kecil untuk tetap terhubung dengan semesta yang kamu cintai.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

Di dunia yang terus berlari, kita perlahan kehilangan jeda untuk benar-benar merasa. Banyak hal dibiarkan mengendap; kata yang tidak sempat terucap, perasaan yang tidak tahu harus pulang ke mana. Kita tertawa di hadapan ramai, namun diam-diam menyimpan sunyi yang memantul di dalam dada. Lalu waktu berlalu begitu saja. Tanpa kita sadari, ada bagian dari diri yang ingin didengar, ingin dipeluk, ingin diberi ruang untuk jujur tanpa harus kuat setiap saat.


Semesta Bercerita tercipta sebagai ruang yang pelan, tempat kata menemukan makna, luka menemukan jeda, dan jiwa beristirahat tanpa perlu menyembunyikan apa-apa. Di sini, setiap kisah dihargai, setiap suara berarti, dan setiap rasa diterima apa adanya. Kami percaya bahwa cerita mampu menyembuhkan, mempertemukan, dan menyalakan kembali cahaya kecil di dalam diri. Di antara sunyi dan suara, kita akan tumbuh bersama: menulis, mendengar, dan saling menguatkan, satu cerita pada satu waktu.

© 2026 SEMESTA BERCERITA - ALL RIGHTS RESEVED

SEMESTA

MENU

Follow Us