Polisi yang kita kenal selama ini adalah mereka yang selalu menjaga, di perempatan, di sudut-sudut yang katanya banyak bahaya.
Tapi kini, semua itu cukup berubah.
Listyo Sigit Prabowo, bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia, tidak hanya menjaga keamanan.
Mereka berdiri di belakang tim dapur besar bernama SPPG, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, tim yang sedang dibangun di berbagai sudut negeri untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis.
Proyek ini tidak kecil, sejak Presiden Prabowo menginisiasi program ini, ribuan unit sudah didirikan.
Namun, apakah sedarurat itu hingga aparat juga harus ikut campur?
Apakah MBG benar-benar sepenting itu sampai polisi yang biasanya dibekali dengan borgol dan seragam, kini juga harus mengurusi sendok dan panci?
Apakah benar tugas polisi sebagai penegak hukum kini harus meluas menjadi “pengurus dapur” negara?
Ini bukan hanya pertanyaan biasa, ini pertanyaan yang mengkhawatirkan kesehatan demokrasi, batas fungsi sipil-militer, dan tata kelola publik yang ideal.
Ini bukan bermaksud menolak upaya memenuhi gizi masyarakat atau memperbaiki layanan publik.
Semua tahu bahwa masalah gizi dan ketahanan pangan adalah persoalan besar yang membutuhkan solusi besar pula.
Namun, ketika solusi itu datang lewat institusi yang tugas pokoknya berbeda, kita tentu boleh bertanya: apakah kita sedang menyelesaikan masalah sosial, atau justru memperluas wilayah kekuasaan para aparat dalam urusan sipil?
Sebab dalam demokrasi yang sehat, pelayanan publik seperti kesehatan, pendidikan, dan gizi masyarakat idealnya dikelola oleh lembaga sipil dengan pengawasan legislatif dan transparansi rakyat.
Ketika institusi keamanan terlalu jauh masuk ke ranah sosial yang bukan kewenangannya langsung, batas kekuasaan itu akan semakin kabur.
Dan demi kebaikan bangsa, kritik seperti ini bukan serangan.
Kritik adalah cermin yang menolak kita tidur dengan nyaman ketika sistem mulai melupakan prinsip dasar: pemerintahan sipil yang kuat, hak rakyat dijunjung tinggi, dan setiap fungsi negara berjalan berdasarkan kapasitas yang jelas.
Polisi memasak untuk rakyat itu baik, tapi kita juga perlu memastikan dapur demokrasi tetap menyala, tidak padam oleh deklarasi tugas yang terlalu luas.
Sisi Lain Cerita:
Negara yang baik bukan hanya hadir dalam niat untuk membantu, tetapi juga tahu di mana ia harus berdiri agar tidak mengambil ruang yang bukan miliknya.
Sebab kekuasaan yang paling bijaksana bukan yang menjangkau segalanya, melainkan yang tahu batas, dan tetap memilih melindungi tanpa harus ikut campur apa-apa yang bukan menjadi keahliannya.





