Di sebuah dunia yang belum benar-benar sembuh, ketika Gaza masih disebut dalam doa-doa lirih dan berita tentang Palestina tak pernah benar-benar reda, Indonesia melangkah ke panggung yang bernama Board of Peace, forum internasional yang dibangun oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan digadang-gadang sebagai jalan baru menuju perdamaian.
Namun setiap langkah besar selalu meninggalkan gema.
Keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace segera memantik gelombang diskusi.
Di ruang-ruang digital, di warung kopi, di ruang kelas kampus, satu pertanyaan terus berulang: apakah ini sungguh ikhtiar tulus untuk menghadirkan perdamaian Palestina, atau sekadar bagian dari arsitektur politik global yang lebih menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya?
Indonesia hadir bukan sebagai pelengkap.
Negeri ini datang sebagai salah satu suara yang ikut menyusun narasi damai, termasuk untuk konflik Palestina-Israel yang telah berlangsung puluhan tahun.
Secara diplomatik, langkah ini bisa dibaca sebagai upaya mengambil peran aktif di meja perundingan dunia.
Namun di sisi lain, publik melihat bayangan yang tak mudah diabaikan.
Rekam jejak politik luar negeri Amerika Serikat, yang kerap dinilai lebih condong pada Israel, membuat sebagian rakyat Indonesia merasa waswas.
Ada ketakutan bahwa solidaritas panjang Indonesia terhadap Palestina bisa tampak memudar, atau setidaknya dipertanyakan.
Suara rakyat pun mengalir deras.
Meme, opini, analisis panjang, hingga kritik tajam memenuhi linimasa.
Organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan kelompok keagamaan ikut bersuara.
Mereka mempertanyakan legitimasi dan arah Board of Peace, khawatir bahwa istilah “perdamaian” hanya menjadi kemasan halus bagi kompromi politik yang tak benar-benar menyentuh akar luka.
Sebagian pengkritik bahkan menyebut bahwa forum semacam ini berisiko menjadi alat bagi negara-negara kuat untuk menata ulang konflik sesuai kepentingan mereka sendiri.
Dalam skenario seperti itu, suara rakyat Palestina, yang paling terdampak, bisa saja kembali tenggelam di balik bahasa diplomasi yang rapi.
Namun di tengah riuh itu, ada satu hal yang tak boleh hilang dari percakapan: makna damai itu sendiri.
Damai bukan sekadar kata yang tercetak di dokumen resmi. Ia bukan hanya foto jabat tangan dan konferensi pers.
Damai yang sejati lahir ketika yang lemah merasa dilindungi, ketika yang kehilangan merasa didengar. Perdamaian tanpa keadilan hanyalah gema kosong yang cepat menguap.
Sisi Lain Cerita
Board of Peace sejatinya bukan hanya tentang Indonesia atau Amerika Serikat. Ia adalah pertanyaan tentang keberpihakan. Tentang apakah di tengah pusaran politik global, kemanusiaan tetap dijadikan kompas.
Sebab sejarah tidak hanya mencatat siapa yang duduk di meja perundingan, tetapi juga siapa yang tetap setia pada suara nurani ketika dunia sedang terluka.





